Penulis:
Dedi Syaputra Amd
Editor:
Julia Syahputri, S.M
Desain Sampul:
Mulkan Azhari, M.Kom.
Cetakan Pertama:
September 2026
Ukuran:
(XIX + 87 hlm); UNESCO
Sinopsis:
Buku Allahu ’Alal ’Arsy Istawa: Adalah Doktrin yang Fiktif merupakan sebuah kajian teologis yang membahas secara kritis pemahaman tentang keberadaan Allah di atas ’Arsy secara fisik atau spasial. Buku ini berangkat dari kegelisahan terhadap pemahaman tekstual yang menjadikan frasa istawa ’alal ’arsy sebagai dasar untuk menetapkan tempat dan arah bagi Dzat Allah, padahal menurut pembahasan dalam buku ini, susunan kalimat tersebut tidak pernah hadir secara eksplisit dalam teks Al-Qur’an.
Melalui pendekatan linguistik dan analisis struktur bahasa Arab, penulis mengkaji istilah-istilah seperti istawa, ’ala, fauqa, fi, dan ’arsy, serta menelaah konteks penggunaan kata-kata tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Pembahasan juga membandingkan struktur ayat istawa dengan ayat-ayat yang berbicara tentang kedekatan (qurb), kebersamaan (ma’iyyah), dan kemahameliputan (ihathah) Allah. Dari analisis tersebut, penulis membangun argumentasi bahwa istawa ’alal ’arsy dipahami sebagai ungkapan yang berkaitan dengan kekuasaan, pengaturan, dan pengawasan Allah terhadap ciptaan, bukan sebagai penetapan lokasi fisik bagi Dzat-Nya.
Buku ini juga mengkritisi dampak penyisipan atau pemaknaan tertentu dalam penerjemahan ayat-ayat istawa yang menurut penulis dapat membentuk gambaran antropomorfis tentang Tuhan. Melalui analogi, penalaran logis, pendekatan geometris, dan pembahasan mengenai sifat Allah sebagai Al-Lathif, penulis berupaya menjelaskan bahwa Dzat Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk yang terikat oleh ruang, arah, koordinat, dan batas material.
Pembahasan kemudian diarahkan pada pemahaman tentang Allah sebagai Dzat Yang Maha Meliputi, Maha Dekat, serta melampaui batas-batas ruang dan arah. Kajian terhadap hadis tentang Al-Dzahir dan Al-Bathin, tadabbur Surah Al-Ikhlas, serta pembahasan Tauhid Syariat dan Tauhid Hakikat menjadi bagian penting dalam membangun perspektif ketauhidan yang ditawarkan buku ini.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca menelaah kembali hubungan antara dalil naqli, dalil aqli, bahasa, dan pemahaman akidah secara kritis. Dengan memadukan kajian kebahasaan, argumentasi rasional, refleksi spiritual, dan pembahasan tauhid, Allahu ’Alal ’Arsy Istawa: Adalah Doktrin yang Fiktif diharapkan dapat menjadi bahan renungan dan referensi bagi pembaca yang ingin memperdalam persoalan teologi Islam, khususnya mengenai sifat-sifat Allah, konsep ruang dan arah, serta pemahaman Tauhid dalam perspektif yang dikembangkan oleh penulis.

