Abstrak jurnal sering terlihat seperti bagian paling pendek dalam sebuah artikel ilmiah. Namun, jangan tertipu oleh jumlah katanya. Bagian ini memegang peran besar karena pembaca biasanya menggunakan abstrak untuk menentukan apakah sebuah artikel relevan dengan kebutuhan mereka. Bahkan, panduan penulisan jurnal dari Taylor & Francis menempatkan abstrak sebagai salah satu bagian utama yang membantu pembaca memahami fokus penelitian, metode, dan temuan sebelum membaca artikel secara keseluruhan.
Karena itu, penulis tidak cukup hanya memindahkan beberapa kalimat dari pendahuluan, metode, dan kesimpulan. Penulis perlu menyusun abstrak sebagai gambaran singkat yang utuh mengenai penelitian. Abstrak harus mampu menjawab pertanyaan penting: penelitian ini membahas apa, mengapa penelitian dilakukan, bagaimana peneliti memperoleh data, apa hasil utamanya, dan apa makna dari hasil tersebut? Dengan demikian, abstrak bukan sekadar ringkasan. Abstrak menjadi pintu pertama yang memperkenalkan kontribusi sebuah artikel kepada pembaca.
Mengapa Abstrak Jurnal Penting dalam Publikasi Ilmiah?
Ketika pembaca mencari artikel ilmiah melalui mesin pencari atau database akademik, mereka tidak selalu langsung membaca seluruh artikel. Mereka biasanya melihat judul, abstrak, kata kunci, dan informasi publikasi terlebih dahulu.
Situasi tersebut membuat abstrak memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, abstrak membantu pembaca memahami isi penelitian secara cepat. Kedua, abstrak membantu sistem pengindeksan mengenali topik artikel melalui istilah dan kata kunci yang relevan. Taylor & Francis juga menjelaskan bahwa kata kunci membantu pembaca menemukan penelitian melalui indeks dan mesin pencari seperti Google Scholar.
Oleh sebab itu, penulis perlu memperlakukan abstrak sebagai bagian strategis dari artikel, bukan sebagai formalitas sebelum bagian pendahuluan. Misalnya, penelitian membahas pengaruh promosi media sosial terhadap keputusan pembelian. Abstrak yang baik tidak cukup mengatakan:
“Penelitian ini membahas promosi media sosial dan keputusan pembelian.”
Kalimat tersebut memang benar, tetapi belum memberikan informasi penting kepada pembaca. Penulis perlu memperjelas tujuan penelitian, pendekatan yang digunakan, responden atau sumber data, teknik analisis, hasil utama, serta kesimpulan penelitian.
Bagian Wajib dalam Struktur Abstrak Jurnal
Struktur abstrak dapat berbeda sesuai dengan pedoman jurnal. Beberapa jurnal menggunakan structured abstract dengan subjudul seperti Background, Methods, Results, dan Conclusions, sedangkan jurnal lain meminta abstrak dalam satu paragraf. Karena itu, penulis harus selalu memeriksa author guidelines jurnal tujuan sebelum menyusun versi final. Meskipun formatnya dapat berbeda, abstrak penelitian pada umumnya perlu memuat unsur berikut:
Latar belakang atau konteks → tujuan → metode → hasil → kesimpulan → kata kunci.
Mari kita bahas satu per satu.
1. Latar Belakang: Jelaskan Masalah yang Mendasari Penelitian
Bagian awal abstrak perlu memberikan konteks singkat mengenai masalah penelitian. Namun, penulis tidak perlu memasukkan seluruh teori yang terdapat dalam pendahuluan. Penulis cukup memberikan informasi yang membuat pembaca memahami mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.
Contohnya:
Perkembangan media sosial telah mengubah cara konsumen memperoleh informasi mengenai produk. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha memanfaatkan promosi digital untuk memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Kalimat tersebut langsung memberikan konteks tanpa menghabiskan ruang untuk penjelasan panjang. Sebaliknya, hindari pembukaan seperti:
“Pada zaman yang semakin modern ini, perkembangan teknologi berkembang dengan sangat pesat dan memberikan banyak sekali perubahan dalam kehidupan manusia…”
Kalimat seperti itu terlalu umum dan menghabiskan ruang abstrak. Prinsipnya sederhana: masuk ke masalah penelitian secepat mungkin.
2. Tujuan Penelitian: Tegaskan Apa yang Ingin Diketahui
Setelah memberikan konteks, penulis perlu menjelaskan tujuan penelitian. Gunakan kata kerja aktif seperti:
- menganalisis;
- mengidentifikasi;
- menguji;
- mengevaluasi;
- membandingkan;
- mengembangkan;
- mengukur;
- menjelaskan;
- mengeksplorasi.
Contohnya:
Penelitian ini menganalisis pengaruh promosi media sosial terhadap keputusan pembelian konsumen.
Atau:
Penelitian ini menguji hubungan antara kualitas layanan digital, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pengguna.
Kalimat tersebut jauh lebih efektif dibandingkan:
“Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh…”
Kalimat kedua terasa lebih panjang karena menggunakan konstruksi yang tidak perlu. Karena itu, gunakan verba yang langsung menunjukkan tindakan penelitian.
3. Metode Penelitian: Jelaskan Bagaimana Penelitian Dilakukan
Setelah tujuan, abstrak perlu menjelaskan metode. Bagian ini sering menjadi titik lemah abstrak karena penulis hanya menulis:
“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.”
Informasi tersebut belum cukup. Pembaca perlu memperoleh gambaran singkat mengenai bagaimana peneliti memperoleh dan menganalisis data. Jika penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, abstrak dapat menyebutkan:
- desain penelitian;
- populasi atau karakteristik responden;
- jumlah sampel;
- teknik pengumpulan data;
- teknik analisis data.
Contohnya:
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 150 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Peneliti mengumpulkan data menggunakan kuesioner dan menganalisisnya menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS).
Kalimat tersebut memberikan informasi yang jauh lebih berguna daripada sekadar:
“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.”
Bagaimana dengan penelitian kualitatif?
Penulis dapat menjelaskan:
- pendekatan penelitian;
- lokasi atau konteks penelitian;
- informan;
- teknik pengumpulan data;
- teknik analisis.
Contohnya:
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap guru yang menerapkan teknologi kecerdasan buatan dalam pembelajaran.
Dengan demikian, pembaca dapat memahami proses penelitian tanpa harus membuka bagian metode terlebih dahulu.
4. Hasil Penelitian: Bagian yang Tidak Boleh Hilang
Hasil merupakan jantung abstrak penelitian. Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah penulis menjelaskan latar belakang, tujuan, dan metode secara panjang, tetapi justru tidak menjelaskan hasil penelitian. Padahal, pembaca ingin mengetahui:
“Lalu, apa yang ditemukan?”
Taylor & Francis menekankan bahwa abstrak perlu menyampaikan temuan utama penelitian, bukan hanya menjelaskan apa yang dilakukan peneliti. Karena itu, jangan menulis:
“Hasil penelitian akan dibahas secara lengkap pada artikel.”
Kalimat tersebut tidak memberikan informasi kepada pembaca.
Lebih baik tulis:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi media sosial berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian, sedangkan kualitas ulasan produk memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Jika penelitian menghasilkan angka penting, penulis dapat mencantumkannya sesuai kebutuhan dan batas kata jurnal.
Misalnya:
Hasil analisis menunjukkan bahwa promosi media sosial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,42 dan nilai p < 0,05.
Namun, jangan memasukkan seluruh hasil statistik ke dalam abstrak. Pilih temuan yang paling menjawab tujuan penelitian.
5. Kesimpulan: Tegaskan Makna Temuan
Setelah menyampaikan hasil, abstrak perlu memberikan kesimpulan singkat. Kesimpulan harus berasal dari hasil penelitian. Jangan memperkenalkan klaim baru yang tidak muncul dalam hasil.
Contohnya:
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguatan strategi promosi media sosial dapat mendukung peningkatan keputusan pembelian konsumen.
Jika penelitian memiliki implikasi yang jelas, penulis dapat menyebutkannya secara singkat.
Misalnya:
Temuan ini memberikan implikasi bagi pelaku usaha untuk mengembangkan strategi promosi digital yang lebih informatif, interaktif, dan berorientasi pada kebutuhan konsumen.
Dengan demikian, abstrak tidak hanya memberi tahu pembaca apa yang ditemukan, tetapi juga menjelaskan mengapa temuan tersebut penting.
6. Kata Kunci: Jangan Memilih Kata Secara Sembarangan
Setelah abstrak, penulis biasanya perlu mencantumkan keywords. Kata kunci membantu pembaca dan mesin pengindeks menemukan artikel berdasarkan topik penelitian. Taylor & Francis menyarankan penulis memilih kata kunci yang menggambarkan topik utama penelitian dan menggunakannya secara alami dalam judul serta abstrak. Contohnya, jika artikel membahas pengaruh promosi media sosial terhadap keputusan pembelian, kata kuncinya dapat berupa:
Kata kunci: promosi media sosial; keputusan pembelian; perilaku konsumen; pemasaran digital; marketplace. Namun, jangan memasukkan kata yang terlalu umum seperti:
- penelitian;
- jurnal;
- artikel;
- mahasiswa;
- hasil penelitian.
Kata tersebut tidak cukup spesifik untuk membantu pembaca menemukan artikel.
Struktur Abstrak Jurnal yang Mudah Dipahami
Agar lebih mudah, penulis dapat menggunakan formula:
Masalah → Tujuan → Metode → Hasil → Kesimpulan
atau:
Why → What → How → What Found → So What
Penjelasannya:
| Komponen | Pertanyaan yang Dijawab |
|---|---|
| Latar belakang | Mengapa penelitian dilakukan? |
| Tujuan | Apa yang ingin diketahui? |
| Metode | Bagaimana peneliti melakukan penelitian? |
| Hasil | Apa yang ditemukan? |
| Kesimpulan | Apa arti temuan tersebut? |
| Kata kunci | Istilah apa yang menggambarkan penelitian? |
Formula tersebut membantu penulis menjaga abstrak tetap fokus.
Contoh Abstrak yang Terstruktur
Misalnya penelitian membahas penggunaan media sosial dalam pemasaran:
Abstrak: Perkembangan media sosial mendorong pelaku usaha mengembangkan strategi pemasaran digital untuk menjangkau konsumen secara lebih luas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh promosi media sosial terhadap keputusan pembelian konsumen. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 150 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Peneliti mengumpulkan data menggunakan kuesioner dan menganalisis data menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas informasi, interaksi, dan daya tarik konten dapat mendukung proses pengambilan keputusan konsumen. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengembangkan konten promosi yang informatif, relevan, dan interaktif untuk meningkatkan efektivitas pemasaran digital.
Kata kunci: keputusan pembelian; pemasaran digital; promosi media sosial; perilaku konsumen.
Perhatikan alurnya. Setiap kalimat menjalankan fungsi tertentu. Tidak ada bagian yang hanya mengulang isi pendahuluan.
Cara Menggunakan Kalimat Aktif dalam Abstrak Jurnal
Karena abstrak memiliki ruang yang terbatas, penulis perlu memilih struktur kalimat yang efisien.
Bandingkan:
Kurang efektif:
Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS.
Lebih aktif:
Peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner dan menganalisisnya menggunakan SEM-PLS.
Kalimat kedua menunjukkan pelaku tindakan secara jelas.
Contoh lainnya:
Kurang efektif:
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif promosi media sosial terhadap keputusan pembelian.
Lebih langsung:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi media sosial meningkatkan keputusan pembelian.
Namun, penulis tetap harus menjaga akurasi. Jangan mengubah struktur kalimat hanya demi mengejar bentuk aktif jika perubahan tersebut membuat makna ilmiah menjadi berbeda. Panduan Taylor & Francis juga memberikan contoh penggunaan active voice dalam penulisan ringkasan ilmiah karena bentuk tersebut dapat membuat informasi lebih langsung dan mudah dipahami.
Kata Transisi untuk Membuat Abstrak Jurnal Lebih Mengalir
Abstrak memiliki ruang yang pendek. Karena itu, setiap kalimat harus saling terhubung. Gunakan kata transisi secara proporsional, misalnya:
- selanjutnya,
- sementara itu,
- selain itu,
- kemudian,
- berdasarkan hasil analisis,
- selanjutnya,
- oleh karena itu,
- dengan demikian,
- sejalan dengan temuan tersebut,
- secara keseluruhan,
Contohnya:
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 200 responden. Selanjutnya, peneliti menganalisis data menggunakan SEM-PLS. Berdasarkan hasil analisis, promosi media sosial berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian, strategi komunikasi digital yang relevan dapat mendukung proses pengambilan keputusan konsumen.
Alur tersebut terasa lebih natural karena setiap kalimat memiliki hubungan yang jelas.
Informasi yang Tidak Perlu Masuk dalam Abstrak Jurnal
Abstrak bukan tempat untuk memindahkan seluruh artikel dalam bentuk mini. Karena itu, hindari memasukkan:
❌ teori panjang;
❌ definisi dari banyak ahli;
❌ tinjauan pustaka;
❌ seluruh variabel penelitian;
❌ seluruh hasil pengujian statistik;
❌ daftar penelitian terdahulu;
❌ kutipan langsung;
❌ daftar pustaka;
❌ informasi yang tidak muncul dalam artikel utama.
Panduan Taylor & Francis juga menyatakan bahwa abstrak harus berdiri sendiri, tetap ringkas, dan mencerminkan isi artikel secara akurat. Untuk beberapa format jurnal, referensi bahkan tidak diperbolehkan dalam abstrak. Jadi, abstrak bukan “artikel versi blender”. Semua bahan tidak perlu dimasukkan sekaligus.
Hindari Klaim yang Tidak Didukung Data dalam Abstrak Jurnal
Penulis juga perlu berhati-hati ketika menyusun kalimat kesimpulan. Misalnya penelitian hanya melibatkan 100 mahasiswa di satu universitas. Jangan langsung menulis:
“Hasil penelitian membuktikan bahwa strategi tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia.”
Kesimpulan tersebut terlalu luas dibandingkan cakupan data. Lebih tepat:
“Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif pada responden mahasiswa yang menjadi objek penelitian.”
Dengan cara tersebut, penulis menjaga kesesuaian antara data, hasil, dan kesimpulan. Prinsip ini penting karena abstrak harus merepresentasikan isi artikel secara akurat. Klaim yang muncul dalam abstrak harus memiliki dasar yang jelas dalam artikel utama.
Berapa Panjang Abstrak Jurnal yang Ideal?
Tidak ada satu jumlah kata yang berlaku untuk semua jurnal. Sebagian jurnal meminta abstrak sekitar 150–250 kata. Jurnal lain dapat menetapkan batas 300 kata atau menggunakan format yang berbeda. Bahkan beberapa pedoman jurnal meminta structured abstract dengan subjudul tertentu. Karena itu, ikuti author guidelines jurnal yang menjadi target publikasi.
Jangan menggunakan aturan:
“Abstrak pasti harus 250 kata.”
Yang benar:
Jumlah kata abstrak mengikuti ketentuan jurnal tujuan.
Jika jurnal menetapkan maksimal 200 kata, penulis harus mengoptimalkan informasi dalam batas tersebut.
Abstrak Jurnal untuk Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Review
Penulis juga perlu menyesuaikan isi abstrak dengan pendekatan penelitian.
Penelitian Kuantitatif
Fokuskan abstrak pada:
masalah → tujuan → sampel → metode analisis → hasil statistik utama → kesimpulan.
Misalnya:
Penelitian ini menguji pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan. Peneliti melibatkan 200 responden dan menganalisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas layanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan.
Penelitian Kualitatif
Fokuskan pada:
konteks → tujuan → informan/data → teknik pengumpulan → analisis → tema/temuan utama → kesimpulan.
Misalnya:
Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman guru dalam menggunakan kecerdasan buatan untuk mendukung pembelajaran. Peneliti mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap 12 guru dan menganalisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu efisiensi perencanaan pembelajaran, pengembangan materi, dan tantangan verifikasi informasi.
Artikel Review
Artikel review memiliki pola yang berbeda karena penulis tidak selalu mengumpulkan data primer. Untuk systematic review atau meta-analysis, abstrak biasanya perlu menjelaskan sumber informasi, kriteria inklusi dan eksklusi, proses analisis, hasil utama, serta kesimpulan. Dengan demikian, penulis tidak boleh menggunakan satu template secara kaku untuk semua jenis artikel.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menulis Abstrak Jurnal
1. Menulis abstrak seperti pendahuluan
Penulis terlalu banyak menjelaskan latar belakang tetapi tidak memberikan hasil penelitian.
Solusi: batasi latar belakang dan alokasikan ruang yang cukup untuk hasil.
2. Tidak mencantumkan metode
Pembaca akhirnya tidak mengetahui bagaimana penelitian dilakukan.
Solusi: sebutkan pendekatan, sumber data atau responden, serta teknik analisis secara ringkas.
3. Tidak mencantumkan hasil
Ini salah satu masalah paling serius.
Solusi: tampilkan satu atau dua temuan utama yang paling relevan dengan tujuan penelitian.
4. Menggunakan kalimat terlalu panjang
Kalimat panjang dapat membuat abstrak sulit dipahami.
Solusi: gunakan satu kalimat untuk satu gagasan utama.
5. Menggunakan istilah yang tidak konsisten
Misalnya pada satu kalimat menggunakan “keputusan pembelian”, kemudian berganti menjadi “perilaku membeli” tanpa alasan yang jelas.
Solusi: pilih istilah utama dan gunakan secara konsisten.
6. Memasukkan informasi yang tidak terdapat dalam artikel
Abstrak harus mencerminkan artikel, bukan menjanjikan sesuatu yang tidak dibahas.
Solusi: setelah menyelesaikan abstrak, cocokkan setiap klaim dengan bagian artikel yang relevan.
Cara Menulis Abstrak Jurnal dari Nol
Jika Anda masih bingung memulai, gunakan lima pertanyaan berikut.
Pertanyaan 1 Apa masalah penelitian?
Tulis satu kalimat.
Pertanyaan 2 Apa tujuan penelitian?
Tulis satu kalimat menggunakan kata kerja aktif.
Pertanyaan 3 Bagaimana penelitian dilakukan?
Tulis satu atau dua kalimat.
Pertanyaan 4 Apa temuan utama?
Tulis satu atau dua kalimat.
Pertanyaan 5 Apa kesimpulan penelitian?
Tulis satu kalimat.
Setelah itu, gabungkan semua jawaban dan pangkas bagian yang berulang.
Rumus sederhananya:
Masalah + Tujuan + Metode + Hasil + Kesimpulan = Abstrak
Kemudian tambahkan kata kunci yang paling relevan.
Checklist Abstrak Jurnal Sebelum Submit
Sebelum mengirim artikel ke jurnal, periksa kembali beberapa aspek penting berikut:
☑ Kejelasan masalah penelitian dalam abstrak.
☑ Ketepatan tujuan penelitian sesuai dengan fokus artikel.
☑ Kelengkapan informasi metode penelitian yang digunakan.
☑ Keterangan mengenai objek, responden, atau sumber data jika relevan.
☑ Penyebutan teknik analisis data secara ringkas dan jelas.
☑ Pemaparan hasil utama penelitian yang paling relevan dengan tujuan.
☑ Kesesuaian kesimpulan dengan tujuan dan hasil penelitian.
☑ Kepatuhan terhadap batas jumlah kata yang ditetapkan jurnal tujuan.
☑ Relevansi kata kunci dengan topik utama penelitian.
☑ Konsistensi istilah antara abstrak dan isi artikel.
☑ Kesesuaian setiap klaim dengan hasil penelitian yang sebenarnya.
☑ Penghapusan informasi yang tidak diperlukan agar abstrak tetap ringkas.
☑ Penggunaan kalimat aktif dan langsung untuk meningkatkan kejelasan.
☑ Keterhubungan antarkalimat melalui transisi yang alami dan logis.
☑ Keterbacaan abstrak secara mandiri tanpa bergantung pada keseluruhan artikel.
Jika seluruh poin tersebut sudah terpenuhi, abstrak memiliki struktur yang lebih ringkas, informatif, dan sesuai dengan kebutuhan publikasi ilmiah. Selanjutnya, cocokkan kembali abstrak dengan author guidelines jurnal tujuan agar format, jumlah kata, dan kata kunci sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Abstrak yang Baik Harus Mewakili Artikel, Bukan Menggantikan Artikel
Pada akhirnya, penulis perlu melihat abstrak sebagai representasi singkat dari keseluruhan penelitian. Abstrak harus memberikan informasi yang cukup agar pembaca memahami arah penelitian, tetapi tetap menyisakan alasan untuk membaca artikel secara lengkap. Oleh karena itu, jangan mengorbankan hasil penelitian hanya demi memperpanjang latar belakang. Jangan pula memenuhi abstrak dengan istilah akademik yang rumit hanya agar terlihat ilmiah.
Tulislah abstrak dengan prinsip: ringkas, informatif, akurat, terukur, dan langsung pada inti penelitian.
Selain itu, selalu sesuaikan format akhir dengan author guidelines jurnal tujuan karena setiap jurnal dapat menetapkan jumlah kata, format, subjudul, dan jumlah kata kunci yang berbeda. Bagi penulis yang sedang mempersiapkan naskah akademik untuk publikasi, proses penulisan tidak berhenti setelah artikel selesai. Penulis juga perlu memeriksa struktur, bahasa, konsistensi istilah, dan kualitas naskah sebelum mengirimkannya. Penerbit Al’Adzkiya sendiri menekankan pentingnya proses editing dan proofreading dalam mempersiapkan naskah agar lebih rapi sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Anda juga dapat mempelajari berbagai artikel edukatif mengenai penulisan dan persiapan naskah melalui Penerbit Al’Adzkiya, termasuk panduan tentang penyuntingan dan persiapan naskah akademik.
Untuk memperdalam teknik penulisan artikel jurnal, penulis juga dapat merujuk pada panduan Taylor & Francis Author Services tentang penulisan artikel jurnal dan panduan penulisan judul, abstrak, dan kata kunci. Kedua sumber tersebut memberikan panduan praktis mengenai fungsi abstrak, pemilihan kata kunci, kejelasan isi, serta pentingnya menyesuaikan abstrak dengan ketentuan jurnal tujuan.
Intinya, abstrak yang kuat tidak membuat pembaca bertanya “penelitian ini sebenarnya tentang apa?” Sebaliknya, abstrak langsung menunjukkan masalah, tujuan, metode, temuan, dan kesimpulan dalam ruang yang singkat tetapi bernilai.
