Ketika editor menolak manuskrip, jangan langsung mengirimkannya ke jurnal lain tanpa mengevaluasi alasan keputusan. Memahami penyebab desk rejection jurnal membantu penulis menentukan perbaikan yang diperlukan sebelum melakukan submission berikutnya. Surat penolakan biasanya memberikan petunjuk mengenai aspek yang perlu diperbaiki agar manuskrip lebih siap untuk menjalani proses editorial.
Mengirim artikel ke jurnal ilmiah menjadi salah satu langkah penting bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk menyebarluaskan hasil penelitian. Namun, proses publikasi tidak selalu berjalan sesuai harapan. Salah satu kendala yang mungkin muncul ialah desk rejection jurnal, yaitu penolakan naskah oleh editor sebelum artikel memasuki tahap penilaian oleh reviewer.
Keputusan tersebut tentu dapat mengecewakan penulis yang telah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penelitian dan menyusun manuskrip. Meskipun demikian, penolakan pada tahap awal tidak selalu berarti bahwa penelitian memiliki kualitas yang buruk. Editor dapat menolak artikel karena ketidaksesuaian topik, kurangnya kebaruan, masalah format, kelemahan penyajian, atau pertimbangan editorial lainnya.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai desk rejection sangat penting sebelum penulis melakukan submission. Dengan mengenali penyebabnya, penulis dapat memperbaiki manuskrip, memilih jurnal yang lebih sesuai, serta meningkatkan kesiapan artikel untuk menjalani proses evaluasi.
Apa Itu Desk Rejection Jurnal?
Desk rejection merupakan keputusan editor untuk menolak manuskrip pada tahap pemeriksaan awal, sebelum mengirimkannya kepada reviewer eksternal untuk menjalani peer review. Pada tahap ini, editor menilai kesesuaian topik, kontribusi ilmiah, kelengkapan naskah, kualitas penyajian, dan kepatuhan terhadap kebijakan jurnal.
Panduan penerbit Elsevier mengenai alasan penolakan artikel ilmiah menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keputusan editorial, termasuk kesesuaian ruang lingkup dan kualitas manuskrip.
Dengan demikian, desk rejection tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh hasil penelitian penulis bermasalah. Artikel mungkin memiliki data yang bermanfaat, tetapi belum sesuai dengan fokus jurnal yang dipilih.
Penulis juga perlu membedakan desk rejection dari penolakan setelah peer review. Pada desk rejection, editor mengambil keputusan sebelum reviewer eksternal mengevaluasi naskah. Sebaliknya, penolakan setelah peer review terjadi setelah proses penilaian memberikan masukan mengenai metode, analisis, interpretasi hasil, atau kontribusi penelitian.
6 Penyebab Desk Rejection Jurnal Ilmiah yang Perlu Diketahui
Setiap jurnal memiliki fokus keilmuan, standar editorial, dan persyaratan penerbitan yang berbeda. Karena itu, penulis perlu memahami beberapa penyebab berikut agar dapat mempersiapkan manuskrip dengan lebih baik.
1. Topik Tidak Sesuai Scope sebagai Penyebab Desk Rejection Jurnal
Ketidaksesuaian topik dengan aims and scope menjadi salah satu alasan editor menolak artikel pada tahap pemeriksaan awal. Editor perlu memastikan bahwa penelitian yang masuk relevan dengan bidang keilmuan dan kebutuhan pembaca jurnal.
Sebagai contoh, penelitian mengenai strategi pemasaran digital mungkin tidak cocok untuk jurnal yang berfokus pada pendidikan anak usia dini. Walaupun penulis menggunakan metode penelitian yang tepat, perbedaan fokus tersebut dapat membuat editor menilai bahwa artikel tidak sesuai dengan tujuan publikasi.
Untuk menghindari masalah ini, bacalah halaman aims and scope sebelum menentukan jurnal tujuan. Setelah itu, pelajari beberapa artikel yang telah terbit untuk memahami jenis penelitian, pendekatan, dan isu yang menjadi perhatian jurnal.
Sebagai referensi tambahan, kamu dapat membaca panduan cara mencari jurnal SINTA untuk membantu menentukan target publikasi berdasarkan bidang penelitian.
2. Kebaruan Penelitian yang Lemah dan Risiko Penolakan Artikel Jurnal
Kebaruan atau novelty membantu editor memahami kontribusi penelitian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Artikel yang hanya mengulang penelitian terdahulu tanpa memberikan perspektif, temuan, atau kontribusi yang jelas dapat menghadapi penolakan.
Oleh sebab itu, penulis perlu menjelaskan kesenjangan penelitian (research gap) secara terarah. Uraikan pula persoalan yang belum terjawab, perbedaan penelitianmu dengan studi terdahulu, dan manfaat hasil penelitian bagi bidang ilmu terkait.
Selain itu, pastikan abstrak dan pendahuluan menyampaikan tujuan serta kontribusi penelitian secara jelas. Penjelasan yang terstruktur membantu editor memahami alasan pentingnya penelitian tanpa harus menafsirkan maksud penulis sendiri.
3. Manuskrip Tidak Mengikuti Author Guidelines
Setiap pengelola jurnal menyediakan author guidelines untuk menjelaskan persyaratan pengiriman manuskrip. Panduan tersebut biasanya mencakup struktur artikel, batas jumlah kata, gaya sitasi, format daftar pustaka, serta ketentuan penyajian tabel dan gambar.
Sayangnya, sebagian penulis langsung mengirimkan naskah tanpa memeriksa seluruh ketentuan tersebut. Akibatnya, manuskrip dapat memuat format yang keliru, bagian wajib yang belum lengkap, atau susunan artikel yang tidak sesuai dengan template.
Meskipun kesalahan teknis tidak selalu menyebabkan penolakan langsung, ketidakpatuhan terhadap persyaratan penting dapat memengaruhi keputusan awal editor. Karena itu, gunakan template resmi jurnal tujuan dan periksa setiap ketentuan sebelum melakukan submission. Kamu juga dapat mempelajari cara memahami author guidelines artikel jurnal agar proses persiapan manuskrip berjalan lebih terarah.
4. Bahasa dan Struktur Artikel Sulit Dipahami
Artikel ilmiah perlu menyampaikan gagasan secara logis, jelas, dan sistematis. Namun, penggunaan kalimat yang berbelit-belit, istilah yang tidak konsisten, atau pembahasan yang kurang terstruktur dapat menyulitkan editor memahami kontribusi penelitian.
Misalnya, abstrak mungkin menjelaskan latar belakang secara panjang, tetapi tidak menyampaikan metode, hasil utama, dan kesimpulan dengan memadai. Pendahuluan juga dapat kehilangan fokus apabila penulis memasukkan terlalu banyak informasi yang tidak mendukung tujuan penelitian.
Untuk memperbaiki masalah tersebut, periksa alur argumentasi dari pendahuluan hingga kesimpulan. Gunakan kalimat yang efektif, jelaskan istilah teknis sesuai kebutuhan, dan pastikan setiap bagian memiliki fungsi yang jelas.
Selanjutnya, mintalah rekan yang memahami bidang penelitianmu untuk membaca manuskrip sebelum pengiriman. Masukan dari pembaca lain dapat membantu menemukan bagian yang kurang jelas atau membutuhkan penjelasan tambahan.
5. Metode dan Kontribusi Penelitian Belum Meyakinkan
Metode penelitian harus selaras dengan pertanyaan dan tujuan penelitian. Editor dapat meragukan kualitas manuskrip apabila penulis tidak menjelaskan desain penelitian, sumber data, pemilihan sampel, instrumen, atau teknik analisis secara memadai.
Selain itu, penulis harus menunjukkan hubungan yang logis antara data, hasil analisis, dan kesimpulan. Klaim yang melampaui bukti penelitian juga dapat melemahkan argumen ilmiah.
Sebelum melakukan submission, periksa kembali apakah metode sudah menjawab rumusan masalah dan apakah hasil mendukung interpretasi yang disampaikan. Sertakan informasi yang cukup agar pembaca dapat memahami proses penelitian dan menilai kekuatan temuannya. Perlu diingat bahwa setiap jurnal memiliki standar dan prioritas yang berbeda. Metode yang sesuai untuk satu bidang belum tentu memenuhi tuntutan jurnal lain.
6. Manuskrip Menimbulkan Persoalan Etika Publikasi
Etika publikasi menjadi bagian penting dalam proses evaluasi manuskrip. Editor dapat menolak naskah apabila menemukan indikasi plagiarisme, pengiriman artikel yang sama ke beberapa jurnal secara bersamaan, manipulasi data, atau persoalan kepengarangan yang belum terselesaikan.
Untuk mencegah masalah tersebut, pastikan naskah mencerminkan karya ilmiah yang orisinal dan mencantumkan sumber secara tepat. Seluruh penulis juga perlu menyetujui pengiriman manuskrip sesuai dengan kebijakan jurnal tujuan.
Sebagai rujukan, International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) menjelaskan ketentuan mengenai publikasi yang tumpang tindih, termasuk pengiriman manuskrip yang sama ke lebih dari satu jurnal secara bersamaan dalam konteks pedomannya. Pembahasan mengenai orisinalitas dapat kamu pelajari lebih lanjut melalui artikel strategi menghindari plagiasi dalam publikasi jurnal.
Cara Menghindari Desk Rejection Jurnal Sebelum Submission
Penulis tidak dapat menjamin bahwa editor akan menerima setiap manuskrip. Akan tetapi, persiapan yang terarah dapat membantu meningkatkan kesiapan artikel sebelum memasuki proses editorial.
1. Pilih Jurnal Berdasarkan Kesesuaian Topik
Mulailah dengan mencari jurnal yang menerbitkan penelitian dalam bidang keilmuanmu. Periksa fokus publikasi, jenis artikel yang diterima, dan relevansi artikel yang telah terbit.
Jangan hanya memilih jurnal berdasarkan reputasi atau target indeksasinya. Sebaliknya, utamakan kesesuaian antara tujuan penelitian dan kebutuhan pembaca jurnal agar target publikasi lebih realistis.
2. Perkuat Abstrak dan Pendahuluan
Abstrak dan pendahuluan membantu editor memahami inti penelitian dengan cepat. Kedua bagian ini perlu menjelaskan persoalan yang diteliti, tujuan, metode, hasil utama, dan kontribusi penelitian secara proporsional.
Hindari klaim kebaruan yang tidak memiliki dukungan literatur. Sebagai gantinya, tunjukkan perbedaan penelitianmu dari studi terdahulu dan jelaskan mengapa perbedaan tersebut penting.
3. Periksa Format Menggunakan Panduan Resmi
Setelah menentukan jurnal tujuan, cocokkan manuskrip dengan author guidelines. Periksa struktur artikel, jumlah kata, gaya referensi, tabel, gambar, dan kelengkapan dokumen pendukung.
Langkah berikutnya, gunakan daftar periksa sebelum menekan tombol submit. Pemeriksaan sederhana ini membantu mengurangi kesalahan teknis yang sebenarnya dapat penulis cegah.
4. Tinjau Kualitas Bahasa dan Alur Argumentasi
Bacalah kembali manuskrip dari sudut pandang editor. Pastikan tujuan penelitian mudah dipahami, metode mampu menjawab pertanyaan penelitian, dan pembahasan menjelaskan arti penting temuan.
Jika menemukan bagian yang terlalu panjang atau berulang, sederhanakan tanpa menghilangkan substansi. Pastikan pula setiap klaim memiliki dukungan data atau referensi yang sesuai.
5. Pastikan Seluruh Persyaratan Etika Terpenuhi
Sebelum mengirimkan artikel, periksa orisinalitas naskah, ketepatan sitasi, persetujuan seluruh penulis, dan persyaratan etik yang berlaku. Lengkapi pula pernyataan konflik kepentingan atau dokumen pendukung apabila jurnal memintanya. Melalui pemeriksaan yang konsisten, penulis dapat mengurangi risiko masalah etika dan administratif pada tahap awal.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mengalami Desk Rejection Jurnal?
Ketika editor menolak manuskrip, jangan langsung mengirimkannya ke jurnal lain tanpa mengevaluasi alasan keputusan. Surat penolakan sering kali memberikan petunjuk mengenai aspek yang perlu diperbaiki.
Pertama, baca surat keputusan editor secara menyeluruh. Identifikasi apakah penolakan berkaitan dengan ruang lingkup, kebaruan, metode, kualitas bahasa, atau persyaratan teknis.
Berikutnya, evaluasi manuskrip berdasarkan alasan tersebut. Apabila jurnal menolak artikel karena tidak sesuai dengan fokusnya, carilah jurnal lain yang lebih relevan. Namun, jika editor menyoroti kelemahan argumentasi, metode, atau penyajian, perbaiki bagian tersebut sebelum melakukan pengiriman berikutnya.
Terakhir, periksa kebijakan pengiriman jurnal tujuan berikutnya. Jangan mengirimkan manuskrip yang sama secara bersamaan ke beberapa jurnal. Pastikan pula setiap revisi benar-benar meningkatkan kualitas naskah, bukan sekadar mengganti nama jurnal pada dokumen pengiriman.
Untuk memahami proses perbaikan manuskrip lebih jauh, baca artikel cara revisi artikel jurnal. Panduan tersebut dapat membantu penulis mengevaluasi naskah dan menyusun perbaikan secara sistematis. Pada akhirnya, penolakan tidak harus menghentikan perjalanan publikasi. Penulis dapat menjadikan keputusan editor sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya dengan lebih cermat.
Kesimpulan: Memahami Desk Rejection dalam Publikasi Ilmiah
Desk rejection jurnal terjadi ketika editor menolak manuskrip sebelum mengirimkannya kepada reviewer untuk menjalani peer review. Penyebabnya meliputi ketidaksesuaian ruang lingkup, kontribusi ilmiah yang belum jelas, kesalahan format, bahasa yang sulit dipahami, kelemahan metode, hingga persoalan etika publikasi. Untuk mengurangi risiko tersebut, pilih jurnal yang tepat, ikuti author guidelines, perjelas kontribusi penelitian, periksa kualitas naskah, dan penuhi ketentuan etika. Jika penolakan tetap terjadi, evaluasi alasan keputusan dan gunakan masukan yang tersedia untuk memperbaiki manuskrip.
Persiapan yang matang tidak menjamin artikel pasti diterima, tetapi membantu penulis mengirimkan naskah yang lebih siap untuk dinilai.
Butuh Pendampingan untuk Persiapan Publikasi Jurnal?
Mempersiapkan artikel ilmiah membutuhkan ketelitian, mulai dari penyesuaian ruang lingkup hingga pemeriksaan format manuskrip. Penerbit Al’Adzkiya menyediakan informasi dan pendampingan terkait kebutuhan publikasi ilmiah sesuai dengan layanan yang tersedia.
Kunjungi website resmi Penerbit Al’Adzkiya untuk mengenal layanan publikasi, membaca artikel edukatif seputar dunia akademik, dan memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kebutuhan publikasi jurnal.
Jangan menunggu penolakan untuk mulai mengevaluasi manuskrip. Persiapkan artikel dengan cermat, pilih jurnal yang relevan, dan tempuh proses publikasi dengan lebih terarah bersama Penerbit Al’Adzkiya.
