Perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa besar, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) memberikan kehormatan khusus kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril, dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha, tempat Nabi berhadapan langsung dengan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta. Hal ini disebutkan dalam firman Allah dalam surah Isra’ ayat 1: Artinya: Maha suci Allah, yang telah mengangkat hamba-Nya dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami tunjukkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Imam Bukhari menceritakan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52. Saat Nabi berada di dalam kamar dan sedang tidur. Tiba-tiba malaikat datang, mengeluarkan hati Nabi, menyucikannya, lalu memberikan emas penuh dengan iman. saat itulah nama dikembalikan suci.
Setelah itu, Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai buraq, didampingi oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia.
Di sana ada pertanyaan: “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Jibril.” Lalu ditanya: “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab: “Muhammad.” Lalu ada ucapan: “Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.”
Di langit dunia, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS).
Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril meminta Nabi Muhammad untuk memberi salam kepada Nabi Adam. Nabi Muhammad mengucapkan salam, lalu Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad.

Perjalanan dilanjutkan ke langit kedua, di mana Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa.
Di langit ketiga, Nabi bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris. Di langit kelima, Nabi bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa. Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melebihi dari umat Nabi Musa sendiri. Akhirnya, di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim.
Sepenggal sejarah perjalanan Nabi Muhammad dalam Isra’ dan Mi’raj menjadi satu momentum yang sangat banyak dicatatkan dalam buku-buku sejarah keagamaan, Penerbit Al’Adzkiya sebagai Penerbit terbaik di kota medan, di sumatera utara serta di seluruh penjuru Indonesia, sangat-sangat memberikan apresiasi kepada para penulis buku zaman sekarang, yang masih banyak juga mengangkat kisah kisah perjalanan rosullah agar umat islam tetap dapat membaca sejarah-sejarah islam. AA
